Ramadhan di zaman Muhammad nabi ﷺ bukanlah bulan yang dipenuhi gemerlap lampu atau hidangan mewah. Ia adalah bulan yang sunyi namun penuh cahaya; sederhana namun mengguncang langit.
Di kota Madinah, ketika hilal terlihat, wajah-wajah para sahabat berseri. Mereka menyambut Ramadhan dengan hati bergetar, bukan karena takut lapar, tetapi karena rindu ampunan Allah.
Sahur yang Sederhana
Sahur mereka sangat sederhana. Kadang hanya beberapa butir kurma dan seteguk air. Rumah Muhammad ﷺ sering kali bahkan tidak memiliki makanan yang cukup. Diriwayatkan bahwa api di rumah beliau terkadang tidak menyala berhari-hari. Namun justru di situlah keberkahan terasa.
Beliau bersabda bahwa dalam sahur ada keberkahan. Maka para sahabat berusaha bangun meski hanya untuk meneguk air.
Siang yang Penuh Kesabaran
Siang Ramadhan di Madinah panas dan terik. Sebagian sahabat tetap bekerja di kebun kurma. Sebagian ikut dalam perjalanan jauh. Bahkan peperangan besar seperti Perang Badar terjadi di bulan Ramadhan. Dalam keadaan berpuasa, sekitar 313 orang kaum Muslimin menghadapi pasukan Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Ramadhan bukan alasan untuk lemah, justru menjadi sumber kekuatan.
Berbuka dengan Kesederhanaan
Ketika matahari terbenam, Rasulullah ﷺ berbuka dengan kurma segar. Jika tidak ada, dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, dengan air. Tidak ada pesta. Tidak ada meja panjang. Namun hati mereka penuh syukur.
Bayangkan suasana itu: adzan Maghrib berkumandang, para sahabat duduk bersila di atas pasir, berbuka bersama, lalu segera berdiri untuk shalat.
Malam yang Dipenuhi Tangisan
Malam Ramadhan adalah waktu paling indah. Muhammad ﷺ memperpanjang shalatnya. Kaki beliau sampai bengkak karena lama berdiri. Dalam sujudnya terdengar isak tangis. Para sahabat berdiri di belakang beliau, mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an seolah baru pertama kali turun dari langit.
Di sepuluh malam terakhir, beliau semakin bersungguh-sungguh. Menghidupkan malam, membangunkan keluarga, dan mengencangkan ikat pinggang—tanda keseriusan ibadah.
Ramadhan Bulan Al-Qur’an dan Dermawan
Ramadhan juga bulan kedermawanan. Rasulullah ﷺ menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Setiap malam beliau bertadarus bersama Malaikat Jibril. Harta yang sedikit di tangan beliau terasa luas karena selalu dibagikan.
Ramadhan di zaman Rasulullah ﷺ bukan tentang banyaknya makanan, tetapi tentang banyaknya sujud.
Bukan tentang ramainya pasar, tetapi tentang ramainya langit oleh doa.
Dan mungkin, jika kita bisa kembali ke Madinah saat itu, kita akan melihat manusia-manusia yang kurus karena lapar, tetapi wajah mereka bercahaya karena iman.
#ramadhan #bulanramadhan #rasulullah