Inspirasi

Kisah Sa‘id bin Zaid radhiyallāhu ‘anhu.

Kisah Sa‘id bin Zaid radhiyallāhu ‘anhu.

Hadirin yang dimuliakan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā,

para penuntut ilmu, kaum muslimin dan muslimat rahimakumullāh.

Semoga kita semua senantiasa berada dalam limpahan rahmat dan hidayah Allah, dimuliakan di dunia, serta dikumpulkan bersama orang-orang saleh di akhirat kelak. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Pada kesempatan ini izinkanlah admin menyampaikan kisah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ, seorang sahabat yang agung, namun tidak banyak dikenal kisahnya, yaitu Sa‘id bin Zaid radhiyallāhu ‘anhu.

Sa‘id bin Zaid adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang berasal dari suku Quraisy. Nama lengkap beliau adalah Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail al-‘Adawi al-Quraisy. Beliau dilahirkan sekitar 22 tahun sebelum hijrahnya Rasulullah ﷺ ke Madinah.

Sa‘id bin Zaid memeluk Islam bersama istrinya, Fatimah binti Khattab, yang merupakan adik kandung dari Sayyidina ‘Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu. Bahkan melalui peristiwa yang terkenal itu, Sa‘id bin Zaid termasuk salah satu sebab masuk Islamnya Umar bin Khattab, sosok yang dikenal sebagai “singa padang pasir” dari kaum Quraisy.

Sebelum memeluk Islam, Sa‘id bin Zaid tidak pernah menyembah berhala, tidak memakan bangkai, dan tidak mengikuti kebiasaan jahiliah. Beliau adalah sosok yang tekun mencari kebenaran dan bertekad untuk menemukan agama yang lurus hingga akhirnya Allah memberinya hidayah Islam.

Ayah Sa‘id bin Zaid, yaitu Zaid bin ‘Amr bin Nufail, juga dikenal sebagai seorang pencari kebenaran. Ia menolak menyembah berhala dan enggan memeluk agama Nasrani. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau melakukan perjalanan spiritual untuk mencari agama yang benar sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ. Bahkan ayah Sa‘id pernah berpesan agar disampaikan salamnya kepada Rasulullah ﷺ jika kelak beliau tidak sempat bertemu.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Sa‘id bin Zaid pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ tentang ayahnya,

“Wahai Rasulullah, seandainya ayahku bertemu denganmu, niscaya ia akan beriman. Apakah aku boleh memohonkan ampun baginya?”

Maka Rasulullah ﷺ menjawab,

“Ya, mohonkanlah ampun baginya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan sebagai satu umat.”

Hadirin rahimakumullāh,

meskipun tidak banyak riwayat yang menceritakan secara panjang tentang Sa‘id bin Zaid, namun yang perlu kita ketahui adalah bahwa beliau merupakan sahabat yang sangat setia kepada Rasulullah ﷺ dan dikenal sebagai sahabat yang doanya mustajab. Beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Sa‘id bin Zaid juga dikenal sebagai sahabat yang hampir tidak pernah absen mendampingi Rasulullah ﷺ dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, kecuali pada Perang Badar. Ketidakhadiran beliau dalam Perang Badar bukan karena keengganan, melainkan karena saat itu beliau diutus oleh Rasulullah ﷺ bersama Thalhah bin ‘Ubaidillah untuk menjalankan misi pengintaian ke wilayah Syam.

Salah satu kisah yang paling terkenal tentang kemustajaban doa Sa‘id bin Zaid adalah peristiwa sengketa tanah dengan seorang wanita bernama Arwa binti Uwais. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, terjadi banjir besar yang menghilangkan batas-batas kepemilikan tanah. Wanita tersebut menuduh Sa‘id bin Zaid telah merampas tanah miliknya dan menyebarkan tuduhan itu hingga sampai kepada Gubernur Madinah saat itu, Marwan bin al-Hakam.

Marwan pun mengirim utusan untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Namun tuduhan itu semakin memberatkan Sa‘id bin Zaid, hingga akhirnya beliau berkata,

“Bagaimana mungkin aku menzalimi Arwa, sementara aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka pada hari kiamat ia akan dikalungi tanah dari tujuh lapis bumi.”

Kemudian Sa‘id bin Zaid berdoa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā,

“Ya Allah, jika wanita ini berdusta dan menuduhku dengan kebatilan, maka butakanlah matanya dan wafatkanlah ia di sumur yang disengketakannya.”

Tidak lama berselang, doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Wanita itu menjadi buta dan suatu hari terjatuh ke dalam sumur yang ia sengketakan hingga meninggal dunia. Orang-orang yang melihatnya mendengar ia berkata, “Aku telah terkena doa Sa‘id bin Zaid.”

Imam an-Nawawi rahimahullāh dalam penjelasannya menyebutkan bahwa Sa‘id bin Zaid memang memiliki keutamaan berupa dikabulkannya doa. Beliau juga menegaskan bahwa mendoakan keburukan diperbolehkan apabila ditujukan kepada orang yang benar-benar berbuat zalim.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

kisah singkat Sa‘id bin Zaid radhiyallāhu ‘anhu ini mengajarkan kepada kita tentang kekuatan doa, keikhlasan, dan keteguhan iman seorang hamba yang lurus di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Semoga kisah ini memberikan pelajaran, manfaat, dan menambah keimanan kita semua.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.