Hadirin sekalian, musllimin dan muslimat rahimakumullāh,
marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita semua. Mudah-mudahan kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya, dimuliakan di dunia, dan dikumpulkan kelak dalam kemuliaan di akhirat.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah admin menyampaikan sebuah kisah teladan dari salah satu sahabat Rasulullah ﷺ, seorang pemuda yang kaya raya, mulia akhlaknya, dan luar biasa kedermawanannya, yaitu Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu.
Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat utama Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai pengusaha sukses sekaligus dermawan sejati. Beliau lahir pada tahun 581 Masehi dan termasuk golongan as-sābiqūnal awwalūn, yakni orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Beliau masuk Islam melalui dakwah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam.
Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu memeluk Islam pada tahun 614 Masehi, saat usianya masih relatif muda, sekitar 31 tahun. Usia yang sangat produktif, namun telah beliau gunakan sepenuhnya untuk membela agama Allah. Bahkan, beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ.
Sumbangsih Abdurrahman bin Auf dalam perjuangan Islam sangatlah besar. Bersama para sahabat muda lainnya seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sa‘ad bin Abi Waqqash, dan Zaid bin Haritsah, beliau memegang peranan penting dalam menyebarkan ajaran Islam dan memperkokoh komunitas muslim di masa-masa awal. Beliau turut serta dalam peristiwa-peristiwa besar sejarah Islam, seperti Perang Badar dan Perang Uhud.
Sebagai seorang saudagar kaya, Abdurrahman bin Auf tidak pernah menjadikan hartanya sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk beribadah dan menolong agama Allah. Ketika Rasulullah ﷺ berdakwah di Makkah, beliau termasuk orang yang pertama menerima Islam dan rela meninggalkan harta benda serta kampung halamannya demi mengikuti Rasulullah ﷺ.
Salah satu kisah yang paling masyhur tentang kedermawanan Abdurrahman bin Auf adalah ketika beliau bersedekah dengan jumlah yang luar biasa besar. Dalam riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah, diriwayatkan dari Ma‘mar dari Az-Zuhri, bahwa Abdurrahman bin Auf pernah bersedekah dengan setengah dari hartanya, yaitu sebanyak 4.000 dinar. Tidak lama kemudian, beliau kembali bersedekah 40.000 dinar, dan pada kesempatan lain kembali menyedekahkan 40.000 dinar lagi. Jumlah ini, jika dikonversikan ke masa sekarang, bernilai sangat fantastis.
Tidak hanya itu, beliau juga menyedekahkan 500 ekor kuda dan 500 ekor unta untuk keperluan jihad di jalan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Sebagian besar harta Abdurrahman bin Auf berasal dari perdagangan dan peternakan. Beliau memiliki 1.000 ekor unta, 100 kuda, dan 3.000 domba yang digembalakan di kawasan Baqi‘. Selain itu, beliau juga dikenal telah memerdekakan ribuan budak.
Ketika Abdurrahman bin Auf wafat, beliau meninggalkan harta yang sangat banyak, termasuk emas yang begitu melimpah hingga harus dipotong-potong dengan kapak agar dapat dibagikan kepada masyarakat, sampai-sampai tangan para pembaginya merasa kelelahan. Namun semua harta itu tidak membuat beliau lalai, justru menjadi ladang amal yang luas baginya.
Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu wafat pada usia sekitar 75 tahun. Jenazahnya dishalatkan oleh Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallāhu ‘anhu, diusung oleh Sa‘ad bin Abi Waqqash, dan dimakamkan di Baqi‘. Seluruh kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah.
Meskipun menjadi salah satu sahabat terkaya, Abdurrahman bin Auf tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah. Beliau adalah contoh nyata seorang muslim yang kaya harta namun tetap rendah hati, taat, dan peduli terhadap sesama. Setelah hijrah ke Madinah, beliau dikenal sebagai salah satu kontributor terbesar bagi Baitul Mal, bahkan pernah menyerahkan separuh hartanya demi membantu kaum muslimin yang membutuhkan.
Ikhwanul muslimin wa akhwatul muslimat rahimakumullāh,
itulah sekelumit kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu. Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā melimpahkan kepada kita rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan. Semoga kita tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga kaya hati, kaya iman, kuat takwa, serta selamat hidup di dunia dan di akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang dermawan, ringan tangan menolong sesama, dan senantiasa bersyukur atas setiap nikmat-Nya. Karena sesungguhnya, semua kebaikan dan kedermawanan itu tidak lain adalah pertolongan dan karunia dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.