ABU LUBABAH RA – SAHABAT YANG MENGIKAT DIRINYA DI TIANG MASJID
Di antara para sahabat Anshar yang setia kepada Rasulullah ﷺ, ada satu nama yang kisahnya begitu menggugah hati. Inilah Kisah Abu Lubabah RA. Nama aslinya adalah Rifa’ah bin ‘Abdul Mundzir, seorang sahabat dari kalangan Anshar Madinah yang ikut serta dalam berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Kisah yang membuat namanya dikenang sepanjang zaman terjadi setelah Perang Khandaq, ketika Rasulullah ﷺ mengepung kaum Yahudi dari kabilah Bani Quraizhah yang telah berkhianat terhadap perjanjian dengan kaum Muslimin. Mereka meminta agar dikirim seseorang yang bisa mereka percaya untuk dimintai pendapat. Karena Abu Lubabah memiliki hubungan lama dengan mereka, Rasulullah ﷺ mengutusnya.
Saat Abu Lubabah masuk menemui mereka, wanita dan anak-anak Bani Quraizhah menangis memohon belas kasihan. Hatinya pun luluh. Mereka bertanya, “Wahai Abu Lubabah, apakah kami harus menerima keputusan Muhammad?”
Di saat itulah terjadi ujian berat bagi imannya. Tanpa berkata apa-apa, Abu Lubabah memberi isyarat dengan tangannya ke arah lehernya—tanda bahwa jika mereka menyerah, hukuman berat bisa menanti mereka. Isyarat itu seakan membocorkan rahasia keputusan Rasulullah ﷺ.
Begitu keluar dari tempat itu, Abu Lubabah langsung tersadar… hatinya bergetar. Ia merasa telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasa bersalah itu begitu kuat hingga ia berkata, “Demi Allah, kakiku belum beranjak sebelum aku sadar bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.”
Ia tidak pulang ke rumah. Ia tidak mencari pembelaan. Ia justru pergi ke Masjid Nabawi, lalu mengikat dirinya sendiri di salah satu tiang masjid. Ia bersumpah tidak akan melepaskan ikatannya sampai Allah menerima taubatnya.
Hari demi hari berlalu. Ia tetap terikat. Hanya saat waktu shalat tiba, keluarganya membuka ikatannya, lalu mengikatnya kembali setelah selesai. Ia menangis, berdoa, dan memohon ampun dengan sepenuh jiwa.
Subhanallah… inilah taubat yang lahir dari hati yang hidup.
Beberapa hari kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ bahwa taubat Abu Lubabah telah diterima. Rasulullah ﷺ tersenyum dan mengabarkan kabar gembira itu kepada para sahabat.
Ketika Rasulullah ﷺ hendak melepaskan ikatannya, Abu Lubabah berkata, “Biarlah Rasulullah ﷺ sendiri yang melepaskanku dengan tangannya.” Dan ketika ikatan itu dilepas, bukan hanya tali yang terurai—tetapi juga beban dosa yang menghimpit jiwanya.
Kisah Abu Lubabah RA mengajarkan kita satu hal penting: manusia bisa tergelincir, bahkan seorang sahabat pun bisa salah. Namun yang membedakan orang beriman adalah seberapa cepat ia kembali kepada Allah.
Taubat bukan sekadar ucapan. Ia adalah penyesalan yang membakar dada, keputusan untuk tidak mengulanginya, dan keberanian mengakui kesalahan tanpa menyalahkan siapa pun.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an tentang mereka yang mencampuradukkan amal saleh dengan kesalahan, lalu bertaubat, bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Para ulama menyebut ayat itu turun berkaitan dengan Abu Lubabah dan beberapa sahabat lainnya.
Bayangkan… kesalahan diabadikan dalam sejarah. Tapi begitu juga taubatnya.
Dari Abu Lubabah RA kita belajar:
* Jangan pernah merasa aman dari kesalahan.
* Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
* Dan jika terjatuh, segeralah kembali sebelum hati menjadi keras.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mudah menangis karena dosa, bukan keras karena pembenaran.
Wallahu a’lam.